Kisah Inspirasi Rahasia Menjadi Seorang Motivator

Bahyudinnor.Com - Ketika berada di Macau, diam-diam saya sempat mengamati bagaimana ribuan orang setiap harinya datang ke sana,mempertaruhkan uangnya dan berharap kaya dari pertaruhan itu.

Begitulah sebagian orang berpikir, sukses dan kaya itu seperti pertaruhan Judi. Padahal tidak. Karena, kalau kita tahu ilmunya, maka sukses dan kaya itu hampir menjadi sesuatu yang pasti. 

Ini serius! Makanya saran saya, cobalah menyisihkan waktu dan uang untuk belajar. Misalnya belajar melalui buku dan seminar. Soalnya, dengan pembelajaran akan terjadi percepatan. Nah, bolehkah coba coba sendiri? Tentu saja, boleh. Namun itu jauuuuuh lebih lama dan jauuuuuh lebih mahal!

Kadang saya prihatin melihat orang-orang. Perjalanan darat 2-3 jam aja menuju tempat seminar, mereka ogah Gimana bisa cepat suksesnya? Siapapun tahu, sukses itu perlu pengorbanan! Catat itu! 

Sekadar berbagi pengalaman, di zaman saya tidak punya uang, saya rela mengirit makan (3 kali sehari jadi 2 kali sehari) agar bisa mencicipi buku dan seminar bermutu.

Beneran!

Sebelum sukses, Tung Desem Waringin dan Bong Chandra bahkan rela menjual aset dan barang berharga demi mengikuti sebuah pelatihan. Sekali lagi, saya percaya, dengan pembelajaran akan terjadi percepatan. Karena kita mempelajari peta sukses dari orang yang telah teruji sukses. Seratus ribu yang kita invetasikan pada isi kepala kita, bisa menghasilkan jutaan bahkan puluhan juta pada isi kantong kita.

Yah, saya tidak menutup mata. Banyak juga yang datang jauh-jauh demi mengikuti seminar saya. Misalnya, ada peserta seminar saya yang datang dari Malaysia, Singapura, Brunci, dan Mesir. Jelas sudah, biaya tiket pesawat mereka Iebih besar daripada biaya tiket seminar saya. Nah, sepanjang saya memberikan seminar, ternyata sangat banyak peserta seminar yang tertarik untuk menjadi motivator. Mereka pun bertanya kepada saya tentang berbagai hal. Dengan segala kerendalan hati, saya pun sharing kepada mereka. Boleh dibilang, mungkin inilah rahasia sukses saya sebagai motivator. Terutama soal membangun nama (personal branding).

Begini. Awalnya, saya menulis di buletin di sebuah kantor. Terus, tulisan itu saya poles dan saya munculkan di koran setempat, Batam Pos. Sejak itu, alhamdulillah orang-orang di Batam mulai mengenal saya. Nah, kebetulan Batam Pos itu bagian dari Jawa Pos Group, yang koran-korannya tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Saya pun mengupayakan agar tulisan saya bisa dimuat di berbagai kota. Dan berhasil! Sekitar 20-an koran di berbagai kota memuat tulisan saya, rutin setiap minggunya. Sebagian di Jawa Pos Group, sebagian di Tribun. Otomatis, orang-orang di berbagai kota mulai mengenal saya. 

Tidak cukup sampai di situ, tulisan-tulisan tersebut saya himpun. Saya jadikan buku. Dan terbitlah buku pertama saya tahun 2005, melalui Gramedia Pustaka Utama yang mengalami cetak ulang sampai tiga kali. Bestseller, istilahnya. Tak terelakkan, Indonesia makin mengenal saya. Saya pun diundang ke berbagai kota untuk berseminar. Titik balik terjadi ketika menulis buku 10 Jurus Terlarang, diikuti dengan 7 Keajaiban Rezeki dan Percepatan Rezeki, terbitan Elex Media Komputindo.

Karena buku-buku tersebut, saya pun diidentikkan dengan biangnya otak kanan. Asal tahu saja, di Indonesia buku yang dicetak ulang dua kali, biasanya langsung menyandang predikat bestseller. Nah, alhamdulillah, buku-buku saya setiap judulnya dicetak ulang minimal belasan kali! Tidak cukup sampai di situ, bahkan 7 Keajaiban Rezeki menjadi buku non-fiksi terlaris sepanjang 2010-2011. Istilahnya, mega bestseller. Seminarnya pun terbesar sepanjang 2010-2011. Dalam waktu singkat, ratusan ribu peserta seminar.

Terlihat jelas di sini bagaimana saya berkali-kali memanfaatkan daya ungkit (leverage). Yaitu media besar dan penerbit besar seperti Batam Pos, Jawa Pas Group, Tribun, Gramedia Pustaka Utama, dan Elex Media Komputindo. Di sinilah pertama kali saya membangun nama secara serius (personal branding). Hm, apakah saya memburu popularitas? Sama sekali tidak! Saya hanya ingin tulisan saya menyebar luas dan bermanfaat luas. Nah, kalau mau cepat, yah mesti pakai media dan penerbit. 

Tidak bisa gerilya sendirian, Kalau gerilya sendirian, itu konyol namanya. K-o-n-y-o-l. Karena lamaaaaa! Tambahan lagi, saya juga memanfaatkan daya ungkit radio, majalah, dan televisi. Mulai yang lokal sampai yang nasional. Mulai yang sesekali sampai yang rutin. (Dibuku 7 Keajaiban Rezeki, satu bab khusus untuk Pembeda Abadi Anda mesti baca ulang.) Saya dedikasikan Selain itu, saya juga memanfaatkan daya ungkit komunitas. Sebut saja Emotional Spiritual Quotient (ESQ), Indonesia Marketing Association (IMA), Asosiasi Manajemen (AMA), dan Entrepreneur University (EU). Tidak ketinggalan, daya ungkit social media layaknya Facebook dan Twitter. Asal tahu saja, cikal bakal buku 7 Keajaiban Rezeki berasal dari catatan-catatan dan status-status saya di Facebook. Cikal bakal buku Percepatan Rezeki berasal dari tweet-tweet saya di Twitter.

Begitu gregetnya status dan tweet saya, sampai-sampai ini dijadikan bahan pertimbangan bagi Indosat untuk mengangkat saya sebagai bintang iklan. Berlanjut Trans TV, SCTV,TV One, Metro TV, dan O'Channel meliput sepak terjang saya. Termasuk Majalah SWA, Majalah Ummi, dan Koran Tempo. Sebenarnya YouTube dan Ring Back Tone (RBT) juga termasuk daya ungkit. Harus diakui, Sinta-Jojo, Briptu Norman, dan Mbah Surip adalah orang-orang yang berhasil menggunakan ini. Nah, saya pun mencobanya walaupur tidak terlalu berhasil.

Masih adakah daya ungkit yang lain? Ada. Terkait uang daya ungkitnya adalah bank, properti, dan emas. Terkait spiritual, daya ungkitnya adalah niat, kebersamaan, sedekah. dhuha, dan ikhlas. Bayangkan, kalau semua daya ungkit ini benar-benar diupayakan dan diberdayakan. Wah, wah, dampaknya bisa melampaui akal sehat. Inilah yang saya sebut, membangun daya ungkit di atas daya ungkit atau level rage on leverage. (Sebagai motivator, saya telah membuktikannya. Sekarang, giliran Anda.)

Soal niat sebagai pembicara seminar, saya memerlukan sederet alat bantu untuk tampil, semisal laptop, LCD, dan kabel suara. Biasanya, panitia seminar setempat yang menyiapkannya. Nah, itu semua penting dan dahsyat. Ternyata ada yang lebih penting dan lebih dahsyat daripada itu. Apa kah itu? Itulah niat. N-i-a-t. Kalau niat Anda tampil untuk mendapatkan tepuk tangan dan gagah-gagahan, maka itu lah yang akan Anda dapatkan. Tapi, kalau niat Anda tampil untuk membawa perubahan, insya Allah Anda akan membawa perubahan pada seluruh peserta seminar. Niat adalah daya ungkit. Ianya bagaikan energi yang mengerahkan dan mengarahkan segala-galanya.

Daya ungkit yang lain adalah kebersamaan. Kalau Anda berkenan, lihatlah sejenak buku-buku saya sebelumnya. Sudah? Di sana, saya selalu melibatkan motivator motivator lain. Ada yang junior, ada  yang senior. Bahkan saya mengajakorang-orang yang belum menjadi motivator untuk menjadi motivator.

Lha, untuk apa?

Dalam dunia motivasi, saya tidak percaya dengan adanya persaingan. Yang ada hanyalah kebersamaan. Berkah dan berlimpah berjemaah!


Menurut saya, kecerdasan itu dibangun dengan mencerdaskan. Kesuksesan itu dibangun dengan menyukseskan. Kekayaan itu dibangun dengan mengayakan. Ini pula yang saya terapkan dalam bisnis dan sedekah. Untuk bisnis, saya memberikan bagi hasil sekitar 30 sampai 50 persen. Untuk sedekah, sekitar 20 persen. Jadi, nggak dimakan sendiri semua. Dengan begini, akan banyak orang yang meridhai dan mendukung pergerakan kita, insya Allah.

Penulis : Nurripdah

Berlangganan Update Artikel Terbaru Via Email:

0 Response to "Kisah Inspirasi Rahasia Menjadi Seorang Motivator"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel