Dilema Antara 2 Pilihan, PJJ atau PTM ??

Di satu sisi PJJ menimbulkan berbagai permasalahan baru, mulai dari kendala fasilitas seperti tidak adanya kuota, sinyal daerah pedalaman,
BAHYUDINNOR.COM Pandemic Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia memberikan dampak nyata dalam berbagai bidang diantaranya dunia pendidikan. Berbagai upaya ditempuh pemerintah Indonesia untuk menekan penyebaran virus covid-19 yang sangat cepat termasuk lockdown, sehingga mayoritas kegiatan di beberapa lembaga baik formal maupun non formal, baik lembaga komersil maupun jasa dirumahkan, tak terkecuali lembaga pendidikan. 
Sejak bulan Maret 2020 dunia pendidikan kita beradaptasi dengan wabah covid-19. Kebijakan dan implementasi pelaksanaan pendidikan banyak yang berubah. Mulai dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), ujian online, penghapusan ujian nasional, realokasi penggunaan dana BOS, wisuda daring sampai penerimaan peserta didik baru juga dilakukan secara online. Sehingga muncullah istilah generasi corona karena siswa dan mahasiswa yang lulus sekolah dan kuliah diwisuda secara daring.

Lucu ya??


Saat ini, memasuki bulan kesebelas hampir satu tahun pandemic covid-19 di Indonesia. Sebagian besar sekolah masih melakukan kegiatan belajar di rumah atau PJJ. Meski telah cukup lama menerapkan PJJ kendala masih kerap dihadapi di lapangan.  Dunia Pendidikan menghadapi pilihan yang sulit bak buah simalakama.

Di satu sisi PJJ menimbulkan berbagai permasalahan baru, mulai dari kendala fasilitas seperti tidak adanya kuota, sinyal daerah pedalaman, tidak adanya laptop dan handphone android, keterbatasan kemampuan dan keterampilan guru dalam mengajar, keterbatasan pengetahuan orang tua dalam mendampingi belajar di rumah hingga berujung pada kematian akibat stress dengan tugas sekolah yang terlalu banyak.

Pemerintah pusat telah mengambil langkah berani menganai pelaksanaan pendidikan dalam pandemi covid-19 yang belum berakhir. Langkah berani tersebut adalah pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menyelengarakan pembelajaran tatap muka semester genap pada bulan januari 2021 ini.
Pemberian kewenangan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melalui channel resmi Kememdikbud di Youtube. Dalam video berjudul “Pengumuman Penyelengaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19” itu, Mendikbud menyatakan alasan perlunya sekolah kembali dibuka untuk pembelajaran tatap muka.
Sesuai dengan pemberian kewenangan Mendikbud tersebut di beberapa Kabupaten sebagian kecil Satuan Pendidikan sudah menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tentunya dengan protokol kesehatan 3M ( Memakai masker, Mencuci tangan  dengan sabun atau hendsanitizer dan Menjaga jarak tidak berkerumun) yang ekstra ketat dan sudah memenuhi   standar kesehatan. 

Untuk satuan pendidikan yang lain mulai melengkapi dan memikirkan secara mendalam untuk persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Karena Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dalam masa pandemic Covid-19 memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Perlu persiapan matang untuk melaksanakannya karena terkait keselamatan warga sekolah. Oleh karena itu, kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) seyogianya dipikirkan secara mendalam serta tidak terburu-buru diputuskan. Jangan sampai sekolah berpotensi menjadi cluster penularan covid-19.

Perlu kerjasama yang baik dalam melaksanakan tatap muka ini. Kerjasama tersebut tentu dari pemerintah, sekolah sebagai pelaksana, komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dan dinas lain seperti dinas kesehatan dan yang paling penting dari orang tua siswa. Jika orang tua tidak setuju maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa. Inilah salah satu bentuk fleksibilitas di era pandemic.

Pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan secara bertahap dengan syarat 30 -50% dari standard peserta didik per kelas. Begitu juga denga jumlah hari dan jam belajar akan dikurangi sehingga mengurangi waktu berkumpul atau berkerumun antar warga pendidikan di sekolah, dengan menggunakan system bergilir rombongan belajar (shif). Tentu saja masing-masing satuan sekolah menyesuaikan dengan kondisi keadaan sekolah masing-masing.

Pada masa pandemic covid-19 ini terjadi perpaduan dalam proses belajar mengajar antara sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), sehingga baik satuan pendidikan maupun orang tua harus bisa mengikuti dan selalu tetap menjaga dan melaksanakan protocol kesehatan demi keselematan bersama. Karena masing-masing pembelajaran memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing tinggal kita saja bagaimana menjalankan secara bijaksana baik dari guru sebagai pengajar, siswa dan orang tua.

Semua upaya tersebut bemuara pada tujuan Negara Indonesia merdeka, yakni “Melindungi Segenap Bangsa Indonesia dan Seuruh Tumpah darah Indonesia “. Sehingga amanat para pendiri bangsa tetap dijalankan sekalipun di tengah wabah pandemic covid-19. harapan kita semua wabah pandemic ini segera berakhir dan proses belajar mengajar dapat berjalan normal kembali


Haji Hana maulina, S.Pd.I
Guru Matematika SMPN 6 Tanta, Kabupaten Tabalong