
Fulan berhasil bangun dan mengambil wudhu. Namun, saat berdiri untuk shalat, pikirannya melayang. "Kunci motor di mana ya?", "Nanti meeting jam berapa?". Konsentrasinya buyar. Di telinganya, Jin Khonzab sedang bekerja keras, membisikkan seribu satu hal duniawi agar shalat Fulan kosong tanpa jiwa, hanya gerakan fisik semata.
Pagi berlanjut. Saat sarapan, hal sepele terjadi. Istri Fulan lupa menyeduh kopi. Tiba-tiba, dada Fulan terasa panas. Ada dorongan aneh untuk membentak, membesarkan masalah kecil menjadi pertengkaran hebat. Di sudut ruangan, Jin Dasim tersenyum puas. Ia telah berhasil menanamkan benih kebencian dan curiga di antara suami istri, mengubah rumah yang damai menjadi neraka kecil.
Fulan berangkat kerja dengan hati dongkol. Di jalan, seseorang menyalip motornya secara mendadak. Emosinya meledak seketika! Ia memaki, bahkan ingin mengejar dan berkelahi. Jin Tibbir sedang meniupkan api amarah di dadanya, memprovokasi agar Fulan kehilangan kendali dan akal sehatnya.
Sesampainya di kantor, suasana tak kalah panas. Fulan mendengar gosip tentang rekannya. Ada bisikan untuk ikut menyebarkan berita itu, mengadu domba tim A dan tim B. Inilah panggung bagi Jin Masauth, sang perusak hubungan sosial, yang tertawa melihat manusia saling bermusuhan karena lidah mereka sendiri.
Siang hari, Fulan membuka media sosial. Matanya tertuju pada iklan barang mewah yang sebenarnya tidak ia butuhkan. "Beli saja, kamu pantas mendapatkannya, habiskan uangmu," bisik Jin Zalanbur. Ia menggoda Fulan untuk boros, mencintai harta berlebihan, dan melupakan hak orang miskin dalam rezekinya.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul. Konten yang tidak pantas. Fulan ragu sejenak, tapi ada dorongan kuat, "Lihatlah, sekali saja tidak apa-apa. Ini indah." Jin A’war sedang memainkan perannya, menghias dosa dan maksiat seolah-olah itu adalah keindahan yang sayang untuk dilewatkan.
Sore harinya, Fulan merenung. Tiba-tiba muncul keraguan di hatinya. "Apakah ibadahku tadi sah? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jangan-jangan aku munafik." Hatinya diliputi rasa was-was dan cemas berlebihan. Jin Wahlan sedang menanamkan keraguan, membuat Fulan bimbang dalam iman yang sebenarnya sudah tertanam.
Menutup hari, Fulan merasa bersalah atas semua kejadian hari ini. Namun, muncul suara halus yang menenangkan, tapi mematikan. "Ah, itu cuma dosa kecil. Kamu kan orang baik. Besok juga bisa tobat. Santai saja." Itulah Jin Abyad, penipu ulung yang menggoda secara halus, membuat dosa terasa remeh dan menjauhkan Fulan dari pertobatan yang sesungguhnya.
Hari berganti malam. Fulan tertidur, lelah berperang melawan musuh yang tak terlihat. Musuh yang tak pernah tidur, dan akan kembali menunggu saat matanya terbuka esok hari.
Pertanyaannya sekarang: Siapa yang menang hari ini? Kamu, atau mereka?