KESEPAKATAN KELAS YANG BERPIHAK PADA SISWA

Kesepakatan kelas melibatkan semua warga sekolah dengan peran yang berbeda-beda. Kepala sekolah memberikan dukungan kepada guru dan staff
BAHYUDINNOR.COM Berbagai upaya dari pemerintah terus dilakukan guna mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). Mulai dari himbauan menjaga protokol kesehatan dengan sangat ketat,  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pemberian sanksi/denda bagi yang melanggar protokol kesehatan. Namun, nampaknya kurva penyebaran korban yang terkontaminasi/terpapar oleh virus Corona masih melonjak naik. Akibatnya  proses belajar mengajar yang biasanya dilaksanakan di sekolah, hingga sekarang masih harus tetap dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran daring (online) dan sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Dalam pelaksanannya selama ini, pembelajaran daring nampaknya masih kurang efektif dan tak luput dari berbagai permasalahan. Siswa mulai merasa bosan belajar di rumah karena tidak bisa bertemu dan bersosialisasi dengan teman-temannya serta kesulitan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tepat pada waktunya. Guru mulai merasa lelah karena berada di depan laptop selama berjam-jam dalam rangka merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta selalu mengingatkan siswa yang belum menyelesaikan tugas yang diberikan. Begitu juga orangtua siswa yang mengeluh tidak bisa mendampingi anak belajar di rumah.  

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu strategi agar pembelajaran daring bisa berlangsung secara efektif dan menyenangkan. Bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan saja melainkan juga pembentukan sikap disiplin dan tanggung jawab. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu membuat kesepakatan kelas.

Kesepakatan kelas merupakan aturan/kesepakatan bagi siswa dan guru yang dianggap bisa dilakukan baik secara individu maupun kelompok dan berlaku untuk kelas tersebut. Kesepakatan kelas umumnya berisi daftar yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Bentuknya dapat berupa panduan tingkah laku dan kata-kata yang positif. 

Membuat kesepakatan kelas biasanya dilakukan sebelum memulai aktivitas baru, di awal tahun ajaran baru dan setelah libur panjang.   
Kesepakatan kelas melibatkan semua warga sekolah dengan peran yang berbeda-beda. Kepala sekolah memberikan dukungan kepada guru dan staff serta mengawasi keterlibatan orangtua. Guru menciptakan ruang kelas yang berpihak pada siswa dan bekerjasama dengan orangtua. Orangtua siswa menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman serta berpartisipasi dalam program sekolah. Siswa terlibat aktif dan bekerjasama dalam menerapkan kesepakatan kelas serta mengingatkan kembali siswa lain yang melanggar. 
Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam membuat kesepakatan kelas terutama pada masa pandemi.
  • Pertama, Membuat WhatsApp grup yang beranggotakan siswa di kelas dan orangtua.
  • Kedua, Bertanya pendapat siswa  dan orangtua secara individu, kelompok ataupun survey mengenai masalah dan harapan mereka saat pembelajaran daring.
  • Ketiga, Tanyakan ide dari siswa untuk mencapai kelas impiannya.
  • Keempat, Ambil kesimpulan dari ide siswa. Kelima, Ubah ide menjadi kesepakatan kelas. Keenam, tandatangani kontrak kesepakatan atau dalam bentuk menuliskan nama saja. 
  • Terakhir, lihat bersama kontrak kesepakatan.
Bagaimana jika masih ada siswa yang melakukan hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan? Maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, review kembali kesepakatan yang telah dibuat. Selanjutnya, diskusikan konsekuensi dari pelanggaran hal tersebut. Berikutnya, beri pujian spesifik apabila telah melakukan kesepakatan tersebut. Akhirnya, berikan konsekuensi yang berkaitan/ berhubungan dengan pelanggaran. 

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari membuat kesepakatan kelas. Pertama, menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab karena siswa terlibat aktif dalam mengatur kelasnya. Hal ini lebih efektif daripada memperingatkan siswa mengenai apa yang yang tidak boleh dilakukan.  Kemudian, meningkatkan rasa peduli terhadap orang lain. Contohnya siswa yang mengingatkan kembali siswa lain yang melanggar kesepakatan. Selanjutnya, meningkatkan kreativitas siswa dalam menyampaikan ide dan gagasan. Berikutnya, menjalin komunikasi seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staff, siswa, dan orangtua siswa. Terakhir dan yang paling penting yaitu membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif. 

Dengan kata lain, membuat kesepakatan kelas bisa menjadi momentum untuk membangun disiplin yang positif dengan melibatkan semua warga sekolah terutama pada pembelajaran di masa pandemi. 

Membuat kesepakatan kelas akan terus dilakukan dan akan selalu berkembang sesuai kondisi yang dihadapi. Hendaknya guru dan siswa bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mendesainnya agar lebih menarik. 



MUHAMMAD SALEH, S.Pd
SMPN 8 Muara Uya, Tabalong