Ruh Pendidikan di Simpang Jalan

BAHYUDINNOR.COM Hampir setahun wabah Covid-19 melanda dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan beberapa sumber menyebutkan lebih dari 189 negara sudah terdampak. Sejauh ini upaya serius untuk menghentikan pandemi  terus dilakukan. Mengingat dampak buruk yang ditimbulkan sangat luar biasa. Tidak hanya sektor ekonomi, politik, keamanaan, pariwisata, maupun sektor olahraga, tetapi sektor sosial dan budaya pun tidak lepas dari gempuran virus. Tak terkecuali dunia pendidikan.
Pada saat pemerintah berupaya untuk bangkit dari keterpurukan dari wabah Covid-19 ini, beberapa program dan agenda penting dicoba untuk diterapkan dan diberikan kepada masyarakat. Di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, telah melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dalam kebijakan tersebut, beberapa sektor penting diupayakan untuk ”dinormalkan”, dengan tujuan untuk menggerakkan dan menggairahkan roda perekonomian secara nasional. Akan tetapi, beberapa sektor yang sebenarnya juga  penting, untuk sementara tidak segera “dinormalkan” adalah sektor pendidikan.

Disinyalir, sektor ini paling rentan dan paling mudah untuk terjadinya penularan Covid-19. Meskipun sebagian masyarakat banyak yang kecewa dengan tidak segeranya sekolah “dinormalkan”. Meskipun kita tahu bahwa banyak pertanyaan di masyarakat yang mempersoalkan tentang kebijakan pemerintah, berkaitan dengan pembedaaan kebijakan tersebut.

Pasar, Mal, Pabrik, Terminal, Stasiun Kereta, Bandara, dan tempat tempat umum lainnya telah dibuka, walaupun tetap mengedepankan prioritas kesehatan (protokol kesehatan). Meski di satu sisi, ketidakdisiplinan masyarakat kita dalam menjalankan kehidupan dengan sedikit berbeda dari biasanya, ternyata tidaklah  mudah. Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, adalah salah satu tindakan yang diyakini dapat mengurangi penyebaran virus. Tetapi tidak sedikit perilaku masyarakat kita yang apatis dengan kebijakan tersebut. Disiplin yang rendah.

Kita sepakat, salah satu ruh dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah karakter. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Bagaimana  mungkin pembentukan karakter anak bangsa yang dipercaya sebagai pondasi ruh pendidikan saat ini dapat tercapai hanya dengan beberapa kegiatan kecil. Seperti  “Nonton TV Edukasi”, baca WhatsApp Pembelajaran, ataupun ikut belajar di zoom. Atau justru pendidikan untuk sementara “dititipkan” kepada orang tua. Tentu hal ini tidak cukup, meski harus ada upaya sistematis, terarah, terukur dan inovatif dari pemerintah. Ide kreatif lain adalah keberanian dari semua pihak agar dunia pendidikan terus berjalan sesuai dengan jalannya.

Agar pendidikan di negeri ini tidak mati sebagai dampak dari pandemi, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan. Antara lain dengan menerapkan belajar dari rumah (BDR). Sebagaimana surat edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 15 Tahun  2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease.  Ada dua tujuan pelaksanaan  belajar  dari rumah yang memiliki poin penting dari sisi edukatif adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid -19 dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua/wali.

Pertama,  memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19. Dalam konteks dunia pendidikan, ada istilah belajar mengajar. Sedangkan dalam praktiknya ada guru-ada peserta didik, yang secara bersama-sama melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan tertentu dalam ruang lingkup pembelajaran. Istilah lain adalah adanya interaksi edukatif.  

Adapun pelaksanaan BDR,  antara lain berupa pemanfaatan fasilitas atau sekat-sekat pembelajaran, khususnya yang berhubungan dengan teknologi. Seperti pemanfaatan aplikasi pembelajaran digital (Rumah Belajar, Meja Kita, Kelas Pintar, Microsoft Office 365, Ruang Guru, dll). Sebagian sudah dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran.  Meskipun pelayanan ini tidak sepenuhnya benar-benar memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat. Mengingat tidak semua daerah mudah mendapatkan pelayanan akses internet.

Kedua, memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua/wali. Bagian juga sangat menarik untuk dibahas, khususnya berkaitan dengan ketersediaan ruang-ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua. 

Muncul kecemasan bersama, antara pendidik, orang tua dan masyarakat. Dengan diberlakukannya belajar dari rumah (BDR), seolah-olah proses pendidikan sudah berjalan. Sebagian kecil memang sudah berjalan, bahkan sampai saat ini, seperti pemberian materi pembelajaran (dengan kurikulum  darurat). Meskipun tidak seluruhnya peserta didik dapat menikmati itu. Tetapi ada hal lain yang lebih besar yang tidak dapat dibentuk melalui kemajuan teknologi, adalah pembentukan moral dan karakter peserta didik.

Memang,  saat BDR tidak ada tawuran pelajar, tidak ada pem-bully-an, tidak ada guru menganiaya murid,  tidak ada murid menganiaya guru, dan tidak ada orang tua peserta didik yang  menganiaya guru. Tetapi proses pembentukan moral dan sikap yang juga menjadi bagian inti dalam kurikulum saat ini tidak dapat tercapai.  Seperti kompetensi inti-1(kompetensi inti sikap spiritual) maupun kompetensi inti-2 (kompetensi inti sikap sosial).
Terlebih,  masih ada sebagian masyarakat dan peserta didik yang masih menggunakan keyakinan dan anggapan bahwa pada masa pandemi Covid-19, tidak ada siswa yang tinggal kelas dan tidak ada siswa yang tidak lulus. Hal ini semakin diperparah dengan kurangnya perhatian dari orang tua terhadap tumbuh dan berkembangnya pendidikan anak-anaknya.

Tentu kita harus tetap punya keyakinan dan optimisme bersama bahwa dunia pendidikan tetap harus berjalan. Upaya nyata dan dukungan semua pihak,  khususnya bagaimana proses belajar mengajar tidak hanya sebatas di dunia maya, tetapi proses pendewasaan pendidikan melalui interaksi peserta didik-guru dapat berlagsung sebagaiamana seharusnya.  

Pembentukan nilai-nilai karakter sebagai ruh pendidikan tidak hilang tersisihkan kemajuan teknologi. Semua potensi peserta didik, termasuk perkembangan kogintif, psikomotorik, sosial emosional, bakat, minat, dan seluruh potensi yang ada pada peserta didik dapat berkembang secara tepat. Semua yakin wabah ini pasti berakhir dan semua akan kembali normal. (*)


Darwanto
SMPN 1 Kusan Hilir, Tanah Bumbu