Solusi Sistem KerjasamaTerencana Bersama Orang Tua Dalam Pembelajaran di Masa Covid-19

Solusi untuk mengatasi pembelajaran itu yaitu dengan Sistem Kerja Terencana antara Guru dangan Orang Tua.
BAHYUDINNOR.COM Solusi Sistem Kerjasama Terencana dengan Orang Tua Siswa Dalam Pembelajaran di Masa Covid-19Sepuluh bulan sudah sejak Maret 2020, kondisi dunia Pendidikan serasa terdiam karena pandemi Covid-19 dan tinggal 2 (dua) bulan lagi masa itu menggenapi satu tahun di 2021. Tentu kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan dunia pendidikan dan proses pembelajaran seolah-oleh meregenerasi mencari solusi dengan sendirinya.
Satu atau dua bulan sebelum banjir tiba, proses pembelajaran sudah menemukan jalannya meski dalam kondisi Covid-19, entah guru dengan daringnya, luringnya, atau konsep kombinasinya dalam melaksanakan proses pembelajaran, namun entah kenapa pula dikejutkan lagi dengan bencana yang datang secara tiba-tiba. Datangnya wabah yang masih ditunggu penyebaran vaksinnya di Indonesia secara serentak dan secara tiba-tiba banjir datang menggenangi wilayah Kalimantan Selatan.

Tak luput, air menggenangi sekolah-sekolah di beberapa tempat yang berbeda, akibatnya proses pembelajaran jadi tertunda. Akses jalan raya, komunikasi, sekolah, fasilitas umum, kondisi lingkungan menjadi lumpuh total.

Sebagus apapun kurikulum yang dipakai, jika sudah berhadapan dengan bencana siapa yang bisa mengelaknya. Covid-19 yang masih melanda hingga saat ini pun belum sirna ditambah lagi dengan bencana banjir yang tak terduga melanda pada beberapa kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan.

Sebanyak 70 Kecamatan dari 11 Kabupaten/Kota terdampak banjir, belum diketahui berapa sekolah yang terdampak, taksiran kerugian oleh Dinas Pendidikan Kabupaten juga belum bisa dilaporkan mengingat akses yang saat ini lumpuh total, kerugian material masing-masing sekolah juga belum bisa dipastikan.

Dinas Pendidikan Kabupaten juga tak tinggal diam dalam mencari solusi agar celah target kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik dapat tercapai setiap harinya. Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh, konsep Daring, Luring, hingga Kombinasi menjadi metode tersendiri di tengah mewabahnya pandemi.

Jika seluruh komponen yang ada sudah berbicara tentang Pendidikan, maka dalam tanda kutip berbicara tentang masa depan suatu bangsa. “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”, (Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia), kata Nelson Mandela.

Inilah mengapa dunia pendidikan dimasa kritis ini harus mendapat perhatian khusus agar masa depan suatu bangsa dapat terjamin. Bila tidak, maka akan menyebabkan ancaman serius terhadap keberlangsungan suatu bangsa. Inilah yang tengah di hadapi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten dan sekolah-sekolah yang terdampak bencana.

Lantas! Kira-kira apa yang perlu diterapkan oleh kepala sekolah, guru, dan orang tua peserta didik jika sudah terjadi hal yang seperti ini? Sistem apa yang perlu diterapkan untuk mengejar ketertinggalan materi dengan sekolah-sekolah yang tidak terdampak?

Sistem Kerja Terencana (SKT) Guru Dengan Orang Tua

Selama banjir menggenangi di beberapa wilayah Kecamatan Provinsi Kalimantan Selatan, otomatis sekolah-sekolah terhenti, itulah kondisi yang sedang dialami saat ini, secara otomatis proses pembelajaran menjadi lumpuh total.

Tak hanya kegiatan pembelajaran daring, luring hingga pembelajaran berbasis kombinasi, yang sebelumnya sudah direncanakan menjadi buyar. Jika proses pembelajaran sebelumnya dapat dilaksanakan melalui peoses pembelajaran jarak jauh dan terencana, materi yang disampaikan dalam kurun waktu tertentu saat ini menjadi kendala akibat banjir yang melanda.

Dampaknya yang dialami tak hanya guru untuk mencari cara bagaimana mengejar ketertinggalan materi-materi yang akan disampaikan kepada peserta didik sesuai dengan kurikulum yang sudah direncanakan.

Untuk mengatasi itu semua dalam mengejar ketertinggalan materi akibat banjir dan kendala utama adalah social distancing akibat Covid-19, maka butuh beberapa solusi untuk mengatasi itu semua yaitu dengan Sistem Kerja Terencana antara Guru dangan Orang Tua.

1. Mengajak Orang Tua Peserta Didik Duduk Bersama
Untuk mengejar ketertinggalan materi yang harus ditempuh dalam kurikulum dengan sekolah-sekolah yang tidak terdampak bencana, perlunya peran guru dan kepala sekolah secara bersama-sama untuk dapat duduk dengan orang tua dalam mengambil langkah tepat yang perlu dilakukan dalam mengejar proses pembelajaran selama dampak bencana.

2. Melakukan Evaluasi Proses Pembelajaran
Guru menyampaikan ketertinggalan materi kepada orang tua, dimana guru sudah melakukan evaluasi pelajaran yang sudah disampaikan sebelumnya serta yang belum disampaikan sembari melihat keadaan, kondisi, lingkungan setelah masa banjir berlalu mengingat wabah yang lain masih ada, sehingga peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan dalam mengejar ketertinggalan.

3. Membuat Kesepakatan Bersama
Mengingat pembatasan social distancing, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, work from home dan dampak yang ada setelah banjir melanda, maka guru dan orang tua dapat membuat kesepakatan bersama dengan menyusun kegiatan yang tepat dalam membuat jadwal pelaksanaan pembelajaran, apakah pelaksanaan dilakukan melalui kelompok belajar, dalam jaringan atau menggunakan sistem luar jaringan atau bentuk lain berdasarkan kesepakatan.

4. Berbagi Tugas Antara Guru dan Orang Tua
Guru dan orang tua saling berbagi tugas dan saling berkomunikasi untuk mengejar ketertinggalan materi.

5. Orang Tua Menjadi Guru Dirumah
Diwaktu-waktu tertentu, peran orang tau sangat dibutuhkan untuk menjadi guru belajar dirumah bagi anak-anaknya dalam membantu guru disekolah melaksanakan ketertinggalan proses belajar. Hal ini tak bisa lepas dari sistem kerja terencana diatas yang sudah disepakati antara guru dan orang tua.

6. Guru dan Orang Tua Saling Menyampaikan Laporan
Dalam mengejar ketertinggalan materi, pentingnya guru menyampaikan sejauh mana materi yang sudah disampaikan kepada peserta didik dan orang tua juga dapat menyampaikan laporan kepada guru sejauh mana anak dirumah mengejar ketertinggalan.

7. Kembali Ke Kondisi Semula
Setelah terkejarnya materi yang tertinggal, maka guru dapat melaksanakan kegiatan proses pembelajaran ke kondisi semula sebagaimana sebelum bencana.

Dari sinilah kepala sekolah, guru, dan stakeholder yang ada harus berpikiran open mind untuk selalu terbuka kepada orang tua dengan memberikan pemahaman dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar yang tertunda karena banjir dan Covid-19 demi terlaksana proses kegiatan pembelajaran, saling memberikan solusi terbaik sesuai kondisi dan saling bekerja sama untuk mencari titik temu dalam mengejar proses ketertinggalan.

Dengan kerugian material yang belum terlihat, komputer sekolah, arsip-arsip penting yang tercetak seperti buku induk, buku pelajaran, buku-buku yang berada di perpustakaan, menjadi hal yang sangat merugikan, pentingnya sekolah merencanakan untuk mengubah dan menyediakan sistem tata arsip secara online kedepannya.

Alfian Noor Arnaim
Guru SDN 2 Palapi ,Tabalong